XE
E X T R A
EFFORTS

antara Produktifitas, Kinerja dan Angka kredit

Oleh: Eddy Sunyoto,
Widyaiswara Madya Departemen PU

           
Produktifitas seorang widyaiswara.

Sudah menjadi rahasia umum di negeri kita kalau tingkat produktifitas PNS amat rendah, karena widyaiswara juga termasuk kategori PNS maka dapat diduga dan sangat mungkin produktifitasnya juga idem ditto. Benarkah?

          Dari uraian yang ada dalam produk kepranataan yang mengatur kewidyaiswaraan, baik berupa UU, PP, Kepmen ataupun SK Ketua LAN sebagai institusi pembina widyaiswara memang tidak ada yang secara khusus menguraikan tentang produktifitas secara langsung. Namun, ternyata banyak sekali aturan yang menetapkan tentang produktifitas ini. Hal tersebut terkait dengan tugas pokok dan fungsi dari widyaiswara yaitu: mendidik, mengajar, dan/atau melatih PNS pada Lembaga Diklat instansi masing-masing. Ketika akan diangkat menjadi widyaiswara, LAN meminta agar instansi Diklat yang akan mengangkat dapat menjamin paling tidak dalam kurun waktu satu tahun dapat mengajar sebanyak 500 jam pelajaran.

          Sungguh merupakan persyaratan yang sangat berat untuk dapat dipenuhi, demi untuk suatu produktifitas (mengajar). Kesempatan mengajar sangat bergantung kepada kemampuan widyaiswara untuk mengampu jenis mata diklat yang dikuasai. Hal ini dibatasi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman dan kemauan untuk terus meningkatkan ilmunya. Meskipun dalam banyak jenis mata diklat sudah tersedia modul yang lengkap, namun tetap diperlukan persiapan, pengayaan dan pemahaman yang lebih. Bermodalkan modul saja tidaklah cukup untuk dapat menjadi pengajar atau menjadi fasilitator suatu diklat. Kendala yang berikutnya adalah jumlah jenis diklat yang ada dalam kurun tahun tersebut, selain tentu saja jumlah widyaiswara yang ada. Jadi singkat kata, sangat sulit untuk dapat mencapai persyaratan produktifitas jumlah jam pelajaran yang harus dipenuhi oleh seorang widyaiswara sebanyak 500 jampel setahunnya.

          Untuk penyusunan modul diklat yang juga merupakan salah satu jenis kegiatan yang dipakai sebagai tolok ukur produktifitas widyaiswara, kesempatannya semakin langka. Modul ini baru dapat disusun setelah ada kajian Kebutuhan Akan Diklat yang sangat tergantung kepada ketersediaan dana dan ujung-ujungnya juga penguasaan disiplin ilmu dari jenis modul yang harus disusunnya. Persyaratan untuk dapat menyusun modul jelas lebih berat, paling tidak ditinjau dari penguasaan materi akademik dari mata diklat tersebut. Dari dua jenis kegiatan mengajar dan menyusun modul, dapat menjadi indikator yang cukup jelas apabila seorang widyaiswara  mempunyai produktifitas yang rendah seperti jenis PNS lainnya. Paling tidak dalam hal kuantitas produktifitas. Memang tidak dipungkiri, ada juga widyaiswara dengan produktifitas yang cukup baik bahkan tinggi namun jumlahnya tidak banyak.

          Sebenarnya ada kegiatan lain dari widyaiswara selain pengembangan dan pelaksanaan diklat seperti telah diuraikan diatas, yaitu kegiatan yang bersifat pengembangan profesi dan  penunjang. Kelompok kegiatan ini juga dapat dipakai sebagai tolok ukur produktifitas seorang widyaiswara.

Kinerja seorang widyaiswara.

          Kinerja seorang widyaiswara atau unjuk kerja seorang widyaiswara, dapat diartikan secara bebas sebagai  hasil perpaduan antara kemampuannya dalam mentransfer ilmunya pada saat mengajar dan penguasaan substansi bahan ajarnya. Mungkin dapat disederhanakan, apabila produktifitas adalah berkaitan dengan kuantitas atau jumlah jam kegiatan maka kinerja ini adalah merupakan kualitas dari proses pembelajarannya. Untuk mengukur kinerja ini tentu lebih sulit dibanding produktifitas karena ada nilai-nilai yang sangat subyektif dan kualitatif. Disini yang menjadi dominan adalah kemampuan menjelaskan dan mentransfer ilmunya.

          Bisa saja seorang widyaiswara mempunyai produktifitas yang tinggi tetapi kinerjanya rendah. Mungkin indikator yang paling mudah adalah apabila banyak peserta didik yang mengeluh, complain atau nggrundel dan ngrasani  cara mengajar widyaiswara tersebut. Di sisi yang lain, meskipun cara transfer ilmunya bagus tetapi frekuensi mengajarnya jarang juga masuk kategori kinerjanya kurang.

          Kesimpulannya, produktifitas kerja baik, kinerjanya belum tentu baik; tetapi kalau produktifitas rendah pasti kinerjanya juga buruk. Jadi, untuk menemukan seorang widyaiswara dengan kinerja yang baik merupakan hal yang lebih sulit ketimbang seorang widyaiswara yang produktifitasnya tinggi.

Angka kredit seorang widyaiswara.

          Selain produktifitas dan kinerja, ada lagi parameter yang namanya angka kredit yang harus dikumpulkan oleh widyaiswara dalam kurun waktu tertentu. Selain Widyaiswara Utama dengan Golongan IV/E maka angka kredit ini diperlukan sebagai perangkat untuk menentukan kenaikan pangkat/golongan, dengan mempertimbangkan berbagai unsur. Ada beberapa unsur yang dinilai dalam penetapan angka kredit ini seperti: pendidikan, pengembangan dan pelaksanaan diklat, pengembangan profesi dan penunjang. Kalau dalam bahasan produktifitas diatas, lebih banyak masuk ke dalam unsur pengembangan dan pelaksanaan diklat saja, sementara kinerja adalah cerita yang lain lagi maka angka kredit ini adalah lebih sebagai alat untuk mengelola, mengendalikan dan membina widyaiswara.
Dengan angka kredit ini, institusi pembina widyaiswara memberikan punishment atau reward.

          Sebenarnya dari perolehan angka kredit yang dikumpulkan widyaiswara dalam kurun tertentu, sudah mencerminkan juga produktifitas dan kinerja dari seorang widyaiswara. Apabila seorang widyaiswara mempunyai kinerja baik (baca profesional) maka undangan untuk mengajar pastilah akan bertubi-tubi banyaknya. Bak seorang biduan terkenal yang di tanggap dimana-mana. Mungkin begitu penjelasan analoginya.

Penutup.

          Untuk  memperoleh produktifitas yang tinggi, kinerja yang baik dan angka kredit maksimal, tidak ada cara lain kecuali kita harus upayakan dengan usaha-usaha yang ekstra keras dan cerdas. X-tra Efforts.

 
     
   
     
Webmail
Contact Us
Direktorat Pembinaan Widyaiswara LAN © 2009 - 2013