Mengembangkan Kompetensi Profesional Widyaiswara*
Oleh: Adi Riyanto Suprayitno
(Widyaiswara Balai Diklat Kehutanan Makassar)

 

Globalisasi telah membuat lingkungan selalu bergelombang bagaikan kerasnya ombak di samudra, yang selalu mengguncang dan menggoyang perahu yang berada ditengah samudra tersebut, dan terus-menerus berubah serta mempengaruhi kelangsungan hidup apa saja baik yang berada di atas samudra, maupun yang berada di dalam perahu tersebut. Dalam konteks organisasi, globalisasi telah menciptakan lingkungan vertikal di mana berbagai organisasi harus bertanding/berkompetisi di atas perahu yang terus bergoyang dengan keras dan kencang.

Era globalisasi yang bercirikan persaingan tersebut akan ditentukan oleh kualitas SDM. Kalau kita boleh sepakat bahwa kualitas bangsa ini akan sangat tergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Demian pula dalam konteks organisasi, maka kualitas dan kompetensi para SDM yang menjadi asset organisasi, termasuk SDM organisasi pemeritah yaitu PNS perlu terus ditingkatkan. Lembaga diklat merupakan salah satu pintu utama untuk memasukinya. Human investment melalui diklat bermutu, akan melahirkan SDM aparatur bermutu yang pada akhirnya diharapkan akan membawa Indonesia untuk dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Salah satu komponen diklat yang mempunyai peranan penting adalah pengajar atau widyaiswara. Widyaiswara memiliki tugas pokok, sebagaimana tercantum dalam Peraturan MENPAN No. PER/66/M.PAN/6/2005**, yaitu mendidik, mengajar, dan/atau melatih PNS. Artinya, selain pada peserta pelatihan itu sendiri, keberhasilan peserta pelatihan dalam menyerap, mengerti dan memahami materi yang disampaikan dalam sebuah kegiatan pelatihan sebagian besar terletak di pundak widyaiswara.

Semua profesi dituntut profesionalis di bidangnya. Artinya bekerja menurut kaidah profesi. Tuntutan tersebut merupakan sebuah keniscayaan dalam birokrasi ketika tuntutan pelayan birokrasi semakin meningkat dalam kerangka good governance (Fanggidae, 2008). Dengan demikian, kesuksesan suatu program pengajaran diklat juga akan sangat ditentukan oleh profesionalisme yang dimiliki oleh widyaiswara. Widyaiswara yang profesional akan memiliki kompetensi atau kemampuan mengajar dan kemampuan memfasilitasi yang unggul dalam suatu proses pembelajaran/pelatihan. Widyaiswara yang kompeten akan lebih mampu membawa dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif serta akan lebih mampu mengelola kelasnya dan membawa peserta diklat pada pencapaian hasil belajar yang optimal. Seandainya diklat dapat diasosiasikan sebagai sebatang pohon yang indah maka WI lebih tepat diibaratkan sebagai akar pohon tersebut. Kekuatan dan kesuburan “pohon diklat” amat tergantung kepada kualitas akarnya.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah sudah profesionalkah kita sebagai widyaiswara? Apakah kita sebagai WI telah menjadi akar yang kuat bagi pohon diklat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, widyaiswara perlu lagi menjawab pertanyaan berikut, yaitu: sudahkah kita sebagai widyaiswara mau dan mampu untuk meningkatkan profesionalisme dimana didalamnya terdapat upaya untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi profesi?

Kompetensi dan Profesionalisme WI

Kata kompetensi merupakan saduran dari bahasa Inggris ‘Competence’ yang berarti kemampuan atau kecakapan. Menurut Susanto (2003) definisi tentang kompetensi yang sering dipakai adalah karakteristik-karakteristk yang mendasari individu untuk mencapai kinerja superior. Kompetensi juga merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan non-rutin. Kompetensi merupakan karakteristik diri yang menjadi pembeda antara performance yang sangat baik dengan performance yang biasa dalam suatu pekerjaan atau organisasi. Ife (1995) menyatakan bahwa secara umum kompetensi dimaknai sama dengan keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh seseorang (skills) untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan, Mendiknas dalam Surat Keputusan No. 045/U/2002 menyatakan bahwa kompetensi merupakan seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu.

Istilah “profesional” berarti a vocation in which professional knowledge of some department a learning science is used in its application to the of other or in the practice of an art found it (Usman, 1997). Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Atas dasar pengertian ini, ternyata pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya, karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya.

Dari kedua pengertian di atas, terdapat benang merah antara kompetensi dan profesionalisme widyaiswara. Artinya, dalam membahas kompetensi profesi widyaiswara berarti membahas profesionalisme widyaiswara. Untuk melakukan suatu kompetensi, seseorang memerlukan pengetahuan khusus, keterampilan proses, dan sikap. Kompetensi yang satu berbeda dengan kompetensi yang lain dalam hal jumlah bagian-bagiannya. Ada kompetensi yang lebih tergantung kepada pengetahuan, ada yang lebih tergantung pada proses. Untuk profesi WI, menurut penulis kompetensi harus ditekankan pada kedua kedua wilayah tersebut, artinya WI dituntut untuk berpengetahuan yang up to date serta mampu menciptakan proses pembelajaran yang kondusif dan humanis.

Selanjutnya, untuk mampu mengerjakan pekerjaan yang profesional diperlukan pengenalan terhadap profesinya. Pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya karena suatu profesi memerlukan special competence yaitu kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya. Makin kompleks, kreatif, atau profesional suatu kompetensi, makin besar kemungkinan diterapkannya cara yang berbeda (different fashion) pada setiap kali dilakukan, bahkan oleh orang yang sama. Oleh karenanya, WI harus benar-benar kompeten dalam menjalankan profesinya. Widyaiswara professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang kewidyaiswaraan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai widyaiswara dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain, widyaiswara profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.

Dengan demikian widyaiswara “wajib” mengetahui bagaimana seharusnya mereka mengajar atau memfasilitasi, selain itu widyaiswara harus berupaya secara terus menerus untuk mengembangkan dirinya. Tanggung jawab dalam mengembangkan profesi harus menjadi tuntutan kebutuhan pribadi widyaiswara, karena tanggung jawab mempertahankan dan mengembangkan profesi tidak dapat dilakukan oleh orang lain kecuali oleh widyaiswara itu sendiri.

Widyaiswara harus peka dan tanggap terhadap perubahan, pembaharuan serta IPTEK yang terus berkembang sejalan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan pekembangan zaman. Disinilah tugas widyaiswara untuk berusaha meningkatkan wawasan ilmu pengetahuannya, meningkatkan kualitas pendidikannya (educational grade) sehingga dalam memfasilitasi dan menyampaikan materi kepada peserta diklat mampu mengikuti arus perkembangan atau tidak ketinggalan dengan perkembangan zaman.

Mengiringi perkembangan zaman dan kemajuan IPTEK, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka widyaiswara harus berupaya untuk terus meningkatkan dan mengembangkan kualitas dan kompetensi profesionalismenya. Harus disadari bahwa sebagai fasilitator diklat yang notabene pesertanya adalah orang dewasa (yang biasanya bersifat kritis), maka widyaiswara perlu membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan yang up to date. Terkadang, bahkan sering terjadi, para peserta lebih paham terhadap informasi atau pengetahuan yang sedang “in” (progressing information). Oleh karenanya, dengan selalu bertekad dan berupaya meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan yang dimiliki, maka wawasan widyaiswara diharapkan lebih baik dibandingkan peserta diklat atau setidak-tidaknya relatif sama, sehingga kredibilitas widyaiswara itu sendiri dimata peserta diklat dapat terjaga bahkan bisa semakin meningkat.

Setiap individu widyaiswara hendaknya menyadari bahwa mereka dituntut untuk dapat secara mandiri mengembangkan dirinya, agar selalu belajar terus menerus dan berusaha agar dirinya dapat mencapai derajat profesionalisme mengingat tuntutan dan harapan masyarakat serta tantangan pekerjaan yang semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Dr. J. Basuki, M.Psi (ketika masih menjabat Kepala Direktorat Pembinaan Widyaiswara LAN) dalam majalah Interaktif IWI Volume 2, September 2005 bahwa perlu adanya pengembangan Individu widyaiswara yang meliputi: pengembangan wawasan, pengembangan intelektual, pengembangan content expert, pengembangan dan peningkatan kemampuan dan keterampilan transfer expert, dan sikap mental serta prilaku.

Apa yang disampaikan oleh Dr. Basuki tersebut hendaknya menjadi motivasi bagi para widyaiswara agar mereka mau dan mampu secara mandiri mengaplikasikannya artinya tidak perlu menunggu action yang dilakukan oleh lembaga atau intansi di mana widyaiswara tersebut bernaung. Sejalan dengan pendapat Ife (1995) bahwa kompetensi merupakan keterampilan-keterampilan yang perlu dimiliki oleh seseorang, Andrew Singh (dalam Suprayitno, 2006), seorang pakar manajemen dari Singapura, menyatakan bahwa sumberdaya manusia dikatakan berkualitas di era modern ini apabila memiliki enam keterampilan, yaitu: speaking skill, thinking skill interpersonal skill, network skill, growth, dan discipline. Mengadopsi pendapat pakar tersebut, menurut penulis keterampilan-keterampilan tersebut dapat pula diaplikasikan kedalam profesi widyaiswara sebagai berikut:

  • Speaking Skill (Keterampilan Menyampaikan Gagasan/Berbicara)

Sebagai pengajar, setiap widyaiswara diharapkan memiliki keterampilan berbicara, bagaimana mengungkapkan gagasan dan pendapat dengan baik, serta memberikan pengarahan dengan baik. Keterampilan ini dalam dunia kewidyaiswaraan merupakan kemampuan menyampaikan materi pelajaran dengan baik atau transfer expert. Dengan demikian widyaiswara diharapkan dapat berkomunikasi secara efektif. Untuk itu diperlukan penguasaan tidak hanya keterampilan berkomunikasi secara verbal, tetapi juga secara non verbal, agar dapat mengkomunikasikan ide dengan jelas dan sistematis, dan jika terpaksa melontarkan kritik tidak sampai menyinggung perasaan peserta diklat, serta mampu merangsang audience (peserta diklat) untuk menanggapi usul yang dikemukakan.

  • Thinking Skill (Keterampilan Berpikir/Intelektual)

Kemampuan untuk mendayagunakan otak dengan optimal. Berpikir merupakan sebuah proses memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan masalah (problem solving), untuk itu diperlukan kemampuan berpikir kreatif, sistematis, integratif, logis/rasional, jernih, dan kritis.

Dengan mengoptimalkan kemampuan berpikir maka para widyaiswara dalam melaksanakan tugasnya diharapkan dapat menjawab dan memecahkan setiap persoalan, setiap pertanyaan dengan jawaban-jawaban yang jernih, tegas, logis dan kreatif. Para widyaiswara diharapkan mampu menelaah dan meneliti berbagai kemungkinan penjelasan dari suatu realitas eksternal maupun internal.

  • Interpersonal Skill (Keterampilan Menjaga Hubungan Antarpribadi)

Dalam berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan koordinasi antar widyaiswara dengan peserta diklat, widyaiswara dengan widyaiswara dan antar widyaiswara dengan penyelenggara diklat. Agar koordinasi dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan maka dibutuhkan adanya komunikasi. Dan agar komunikasi berjalan efektif dibutuhkan hubungan interpersonal yang baik. Taylor et. al (Rakhmat 2002) menyatakan bahwa banyak penyebab dari rintangan komunikasi berakibat kecil saja bila ada hubungan baik di antara komunikan. Sebaliknya, pesan yang paling jelas, paling tegas, dan paling cermat tidak dapat menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan jelek.

Untuk mewujudkan terciptanya hubungan baik, para widyaiswara harus mampu mengembangkan sikap tenggang rasa, membangun kepercayaan antar widyaiswara dengan peserta diklat, widyaiswara dengan widyaiswara dan antar widyaiswara dengan penyelenggara diklat., saling membuka diri, tidak memaksakan kehendak diri sendiri, bersedia menolong dan ditolong, sedapat mungkin mampu meredam timbulnya bibit-bibit konflik dan apabila terjadi konflik mampu mengelola konflik dengan baik sehingga tidak berlarut dan meluas.

  • Network Skill (Keterampilan Mengembangkan, Membangun Jaringan atau Meluaskan Hubungan Kerja)

Widyaiswara diharapkan berjiwa kosmopolit, yaitu mampu membangun kontak dengan dunia luar organisasi kediklatan. Dengan membangun jaringan ke luar, maka akan bertambah wawasan, pandangan dan pola pikir. Para widyaiswara akan banyak terbantu dalam menyelesaikan berbagai persoalan tertentu dengan adanya informasi-informasi dari luar.

  • Growth (Keterampilan Mengembangkan Diri)

Para widyaiswara diharapkan, secara sadar, mau dan mampu untuk secara terus menerus mengembangkan diri ke arah yang lebih baik mampu memperlihatkan kemampuan diri secara optimal, dan mampu mendorong diri sendiri untuk mengembangkan kapasitas prestasi secara optimal. Perlu kesadaran yang timbul dari dalam diri untuk mau menjadi manusia pembelajar.

  • Dicipline (Disiplin)

Ketaatan dan kepatuhan serta kerelaan dalam menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang berlaku. Setiap widyaiswara secara sadar dan sukarela harus taat pada berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar nilai atau norma yang telah ditetapkan baik yang berlaku di lingkup organisasi, masyarakat, dan agama. Perasaan memiliki dan kecintaan terhadap pekerjaan harus dikembangkan dan menjadi komitmen dalam diri setiap widyaiswara, sehingga akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi proses pembelajaran.

PENUTUP

Selain pengembangan profesi yang dapat dinilai angka kreditnya sebagaimana tercantum dalam Peraturan MENPAN No. PER/66/M.PAN/6/2005** (membuat karya tulis ilmiah, menerjemahkan/menyadur buku dan bahan lain, dan orasi ilmiah), maka apabila masing-masing individu widyaiswara mau dan mampu mengaplikasikan keenam unsur yang telah diulas di atas dalam pekerjaannya dan keseharian hidupnya, maka kualitas atau mutu profesionalisme widyaiswara akan selalu meningkatkan dan semakin baik. Namun demikian masih terdapat satu elemen lagi, yang sebenarnya merupakan Esensi atau inti dari semua keterampilan yang telah disebutkan di atas yaitu Spritual skill (keterampilan yang berhubungan dengan Sang Pencipta). Keterampilan ini akan menjadi pengontrol moral widyaiswara. Dengan ketrampilan spritual, maka para widyaiswara dalam melaksanakan amanah atau tanggung jawab yang diembannya, akan menggunakan hati nurani yang dilandasi oleh semangat IMTAQ kepada Sang Khaliq. Keimanan dan ketaqwaan kepada Sang Khaliq akan melahirkan kinerja yang berada di atas rel atau jalan kebenaran yang “hakiki” yang akan berujung pada tercapainya efektivitas kinerja widyaiswara yang baik dan benar.

*) dari http://arsury.blogspot.com/2009/01/mengembangkan-kompetensi-profesional.html
**) telah diubah dengan PERMENPAN Nomor 14 Tahun 2009 - red

 
     
   
     
Webmail
Contact Us
Direktorat Pembinaan Widyaiswara LAN © 2009 - 2013